Jumat, 05 Juli 2013

turatea, kota kuda


Sumbawa mungkin boleh dikenal sebagai daerah yang identik dengan kuda-kudanya yang khas namun di Jeneponto, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan juga memiliki khas itu. Jeneponto yang dikenal dengan nama “Bumi Turatea” ini sangat familiar dengan julukan kota “KUDA”.
Jeneponto, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang berada di ujung bawah pulau Sulawesi. Jarak tempuh dari Makassar – ibukota Sulawesi Selatan ke Jeneponto kurang lebih 2 jam perjalanan dengan jarak 95 km. Perjalanan ke kabupaten Jeneponto akan melewati 2 kabupaten, yakni Gowa dan Takalar. Sejak jaman dulu dan hingga saat ini kuda Jeneponto memang terkenal. Jika Anda telah masuk ke pusat kabupaten Jeneponto, yakni di Bontosunggu maka lambang yang Anda akan lihat adalah sebuah patung kuda dan bahkan diangkat sebagai simbol kota tersebut. Sejak pintu masuk hingga batas kabupaten, kita akan mudah menjumpai kuda-kuda yang digembalakan secara liar di beberapa tanah lapang.
Binatang-binatang itu mencari makan sendiri di tanah lapang, bekas lahan persawahan yang berubah menjadi lapangan rumput dikala musim kering. Kuda memang tak sekedar alat transportasi, namun sudah menjadi bagian keseharian masyarakat, gaya hidup, juga simbol status seseorang di masyarakat.
Keunikan Jeneponto dengan kuda disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Jeneponto yang gemar memakan daging kuda. Pasar-pasar tradisional di Jeneponto akan sangat susah untuk mendapatkan daging lain selain daging kuda bahkan tidak ada.  Kuda disebutkan sangat istimewa dalam masyarakat Jeneponto. Setiap acara, seperti orang nikah/kawin, orang hendak naik haji, mengkhitankan anak, dan aqiqah termasuk juga saat hajatan orang meninggal selalu menghadirkan daging kuda, di samping jenis daging lainnya, seperti kerbau, ayam ataupun kambing dan sapi, namun daging kuda tetap selalu hadir dalam setiap hajatan.
Hidangan coto dan sop konro daging kuda digolongkan sebagai hidangan yang memiliki latarbelakang seni ketatabogaan yang sangat tinggi, walaupun tergolong sebagai makanan rakyat biasa. Bagi masyarakat Jeneponto terdapat mitos bahwa dengan makan daging kuda, akan memiliki stamina kuat dan diyakini bahwa dagingnya terdapat banyak zat-zat anti tetanus meski hal itu belum terbukti secara medis.
Salah satu masakan khas daging kudanya adalah gantala jarang. Gantala adalah makanan tradisional masyarakat Jeneponto. Makanan khas ini terbuat dari potongan daging ataupun tulang kuda. Daging dan tulang kuda direbus dalam wadah panci khusus, biasanya dari potongan drum, dalam waktu yang lama. Daging kuda tersebut hanya direbus dengan hanya menggunakan garam kasar, kemudian diberi bumbu dari akar-akar kayu. Meski tidak dimasak dengan bumbu yang komplit, makanan ini memiliki rasa dan aroma khas. dagingnya dapat disimpan untuk beberapa hari bila belum hendak dikonsumsi.
Di kalangan masyarakat Jeneponto, Gantala Jarang merupakan salah satu makanan yang harus ada dalam berbagai hajatan, misalnya pesta perkawinan. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan makanan ini pasti tidak akan berselera untuk mencicipinya, tapi masyarakat Jeneponto tidak demikian, dalam pesta-pesta pernikahan tidak akan sah atau ada sesuatu yang kurang jika tamu tidak disuguhi dengan hidangan Gantala Jarang. Generasi tua di Jeneponto selalu mencari gantala ini disetiap hajatan, sebab kuahnya yang tidak terlalu kental dan daging yang direbus dengan matang membuat daging mudah dinikmati.
Masakan berbahan daging kuda lainnya yaitu kawatu. Masakan ini berupa potongan-potongan daging kuda yang diolah seperti kita sering nikmati berupa semur. Kuahnya yang coklat kehitaman dan sudah meresap ke daging menjadikan daging empuk dan terasa manis.
Populasi Kuda di Jeneponto diperkirakan 25.227 ekor dan dikenal sebagai penghasil daging kuda terbesar di Propinsi Sulawesi Selatan. Produksi daging kuda mencapai 46,4 ton. Binatang spesial di Jeneponto itu kini mencapai harga dengan kisaran 2,5-5 juta per ekor tergantung postur tubuh dan kondisi fisik lainnya. Selain dari Jeneponto sendiri, kuda-kuda yang dipelihara warga saat ini sering didatangkan dari Flores, dan daerah lainnya di Sulawesi, seperti dari Pinrang, Gorontalo, dan Sulawesi Utara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar